Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu:
1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.
“Malam ini akan ada serombongan kafilah yang hendak bermalam di pinggir kota, dalam perjalanan pulang”, kata Khalifah Umar kepada Abdurrahman bin Auf.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Abdurrahman.
“Kafilah ini akan membawa barang dagangan yang banyak, maka kita sebaiknya ikut menjaga keselamatan barang dari gangguan tangan-tangan usil. Jadi nanti malam kita bersama-sama harus mengawal mereka”, sahut sang Khalifah. Abdurahman dengan senang hati membantu dan siap mengorbankan jiwa raganya menemani tugas khalifah yang ia cintai ini.
1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.
Aku berhasrat mendidik Anda bukan melalui
perintah-perintah, tetapi melalui perbuatan.”
Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang sangat
disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang luar biasa pada
rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan langsung dan
sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya. Inilah beberapa
kisahnya.
Pada suatu malam hartawan Abdurrahman bin Auf dipanggil oleh
Khalifah Umar bin Khattab untuk diajak pergi ke pinggir kota Madinah.
“Malam ini akan ada serombongan kafilah yang hendak bermalam di pinggir kota, dalam perjalanan pulang”, kata Khalifah Umar kepada Abdurrahman bin Auf.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Abdurrahman.
“Kafilah ini akan membawa barang dagangan yang banyak, maka kita sebaiknya ikut menjaga keselamatan barang dari gangguan tangan-tangan usil. Jadi nanti malam kita bersama-sama harus mengawal mereka”, sahut sang Khalifah. Abdurahman dengan senang hati membantu dan siap mengorbankan jiwa raganya menemani tugas khalifah yang ia cintai ini.
Demikianlah sang khalifah menjalankan tugasnya, turun tangan
langsung untuk memastikan rakyatnya tidur dan hidup dengan tenang. Bahkan malam
itu khalifah Umar mendesak Abdurahman untuk tidur sambil siaga sementara ia
sendiri tetap terjaga hingga pagi hari.
Khalifah Umar bin Khattab memang dikenal sebagai seorang
pemimpin yang selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik secara diam-diam. Orang
yang ditolongnya sering tidak tahu, bahwa penolongnya adalah khalifah yang
sangat mereka cintai.
Pernah suatu malam Auza’iy pernah ‘memergoki’ Khalifah Umar
masuk rumah seseorang. Ketika keesokan harinya Auza’iy datang ke rumah itu,
ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit.
Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumahnya untuk
mengirim makanan dan obat-obatan. Tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa
orang tersebut! Padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tak lain
adalah adalah khalifah yang sangat ia kagumi selama ini.
Pada suatu malam lainnya ketika Khalifah Umar berjalan-jalan
di pinggir kota, tiba-tiba ia mendengar rintihan seorang wanita dari dalam
sebuah kemah yang lusuh. Ternyata yang merintih itu seorang wanita yang akan
melahirkan . Di sampingnya, duduk suaminya yang kebingungan. Maka pulanglah
sang Khalifah ke rumahnya untuk membawa isterinya, Ummu Kalsum, untuk menolong
wanita yang akan melahirkan anak itu. Tetapi wanita yang ditolongnya itu pun
tidak tahu bahwa orang yang menolongnya dirinya adalah Khalifah Umar, Amirul
Mukminin yang mereka cintai.
Pada kisah lainnya, ketika sang Khalifah sedang ’meronda’, ia
mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh. Dari pinggiran jendela ia
mendengar, sang ibu sedang berusaha menenangkan anaknya. Rupanya anaknya
menangis karena kelaparan sementara sang ibu tidak memiliki apapun untuk
dimasak malam itu. Sang ibupun berusaha menenangkan sang anak dengan
berpura-pura merebus sesuatu yang tak lain adalah batu, agar anaknya tenang dan
berharap anaknya tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan
tanpa mengetahui kehadiran Khalifah Umar diluar jendela, sang ibupun bergumam
mengenai betapa enaknya hidup khalifah negeri ini dibanding hidupnya yang serba
susah. Khalifah Umar yang mendengar hal ini tak dapat menahan tangisnya, iapun
pergi saat itu juga meninggalkan rumah itu. Malam itu juga ia menuju ke gudang
makanan yang ada di kota, dan mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan
kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Bahkan ia sendiri yang memanggul
karung makanan itu dan tidak mengizinkan seorang pegawainya yang menemaninya
untuk membantunya. Ia sendiri pula yang memasak makanan itu, kemudian menemani
keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur sang anak hingga
tertidur sebelum ia pamit untuk pulang. Dan keluarga itu tak pernah tahu bahwa
yang datang mempersiapkan makanan buat mereka malam itu adalah khalifah Umar bin
Khatab !
